Jangan Jadi PK, Kamu Gak Akan Kuat, Biar Aku Saja!

Watampone, 12 Februari 2019

Banyak cerita menarik ketika menjadi seorang pembimbing kemasyarakatan (PK) di Balai Pemasyarakatan. Adakalanya seorang PK harus kehujanan dan kepanasan, Home Visit melakukan Penelitian Kemasyarakatan (Litmas) di lokasi yang terpencil, hingga berhadapan dengan keluarga yang menjadi korban dari Klien Pemasyarakatan. Hal ini tentu menjadi tantangan yang wajib dilaksanakan sebagai seorang pelayan publik.

Pembimbing Kemasyarakatan dari Bapas Watampone, Kariady A. Palaloi menunjukkan betapa sulitnya beban dan resiko menjalani profesi sebagai pembimbing kemasyarakatan. Kariady memulai pekerjaan dengan melakukan pengambilan data, dokumen, dan keterangan dari Klien Pemasyarakatan atas nama SR di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Watampone dengan perkara tindak pidana pembakaran pasal 187 KUHP.

Kariady kemudian melakukan pengambilan data terhadap penjamin Klien atas nama Suryani Binti Juhani di Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone serta melakukan penandatanganan Surat Tugas serta meminta tanggapan dari Pemerintah setempat tempat tinggal penjamin klien.

Tidak sampai disitu, Pembimbing Kemasyarakatan juga dituntut untuk menggali informasi dan meminta tanggapan dari korban Klien mereka sendiri. Dengan besarnya resiko dalam menghadapi penolakan dan situasi yang tidak menguntungkan lainnya. Salah satu korban kasus pembakaran rumah di Kabupaten Bone yaitu LB, mengaku menolak cuti bersyarat yang hendak diberikan kepada SR. Telah Diketahui sebelumnya, SR akan mendapatkan program cuti bersyarat dan akan beralih status menjadi Klien Pemasyarakatan Bapas Kelas II Watampone dalam beberapa waktu kedepan.

"Saya tidak mau kalo si SR itu dibebaskan, apalagi kalo berkeliaran di dekat rumah saya. Keluarga saya masih shock dengan perlakuan SR" ungkap LB saat ditemui oleh Petugas Bapas Watampone.

Terkait penolakan dari pihak korban, petugas bapas watampone dalam hal ini Karyadi memberikan tanggapan. "Kalau ternyata ditolak, kami dari pihak Bapas Watampone akan berusaha semaksimal mungkin mencari solusi terbaik untuk pelaku agar tetap bisa menjalankan program reintegrasi sosialnya, kan kasian juga kalo seperti itu. Soal penolakan itu adalah hak korban namun pelaku juga punya hak untuk mendapatkan cuti bersyarat sebagaimana peraturan yg berlaku, Nanti kita akan carikan tempat yg cocok untuk klien" tutur Kariady.

"Menjadi Pembimbing Kemasyarakatan (PK) di Balai Pemasyarakatan itu haruslah siap dek, dengan segala resiko tugas yang akan kita hadapi di lapangan." ungkap Kariady di akhir pertemua dengan tim Humas Bapas Watampone.



Share:

1 comment:

Link Terkait

Instagram

Bapas Watampone YouTube



Instagram

Blog Archive

narator

Maps

Recent Posts